PATAGONIA: JOURNEY TO THE SOUTH END OF THE WORLD by (Parjianto Wihardjo)

Floating iceberg (pecahan es) dari Grey Glacier yang mengapung dan bergerak ke tepain danau / Lago Grey yang jaraknya sekitar 20km dari area glacier

Perjalanan kali ini masih terinspirasi dengan ekspedisi kapal HMS Beagle yang diawaki Charles Darwin bersama kapten Robert FitzRoy. Setelah sebelumnya kami menjelajah gugusan kepulauan Galapagos, kali ini perjalanan kami lanjutkan bablas ke ujung selatan daratan South America, Patagonia. Konon katanya Darwin sampai meluangkan waktu lebih lama singgah di wilayah ini karena saking terpesonanya dengan keunikan alam dan flora faunanya.

Tapi tolong bung dan nona jangan membayangkan perjalanan ini se-heroik ekspedisi Darwin tadi, misi kami tidaklah lebih dari mewujudkan impian ber-happy feet dancing bersama King Penguins dan berfoto narsis di depan southern patagonian ice field (tanpa pose bibir dimonyongin tentunya). Jadi jangan tanya catatan penting apalagi journal ilmiah dari perjalanan ini. :)

Wilayah Patagonia sendiri masuk bagian Chile dan Argentina yang membentang dari bagian selatan pegunungan Andes sampai ke ujung selatan daratan South America yang merupakan gerbang masuk menuju Antartica. Daerah Patagonia yang kami jelajahi kali ini sendiri meliputi tiga provinsi yaitu Magallanes, Tierra del Fuego dan Ultima Esperanza. Ketiga provinsi tersebut masuk wilayah Magallanes and Chilean Antarctica Region, Chile.
Pelabuhan penyeberangan selat Strait of Magellan yang menghubungkan mainland ke Tierra del Fuego.


Hari pertama, kami mendarat di Punta Arena, sebuah kota pelabuhan yang tidak cukup besar tapi lumayan modern. Punta Arenas merupakan starting point yang pas untuk meng-explore Patagonia karena ibu kota provinsi Magallanes ini berada di antara Tierra del Fuego dan Ultima Esperanza. Target pertama kami setelah mendarat di kota ini adalah mengunjungi koloni ribuan Magellan Penguins di Pulau Magdalena, sebuah pulau kecil di Strait of Magellan. Katanya ada lebih dari 100ribu magellan penguins yang setiap bulan October sampai April bermigrasi ke pulau ini. 

Tapi sayang rencana kami harus gagal karena ternyata musim migrasi penguins tahun ini mundur dari biasanya. Alhasil kamipun terpaksa merombak itinerary, memanfaatkan hari pertama untuk city sightseeing dan mengunjungi beberapa bangunan bersejarah seperti benteng tua Fuerte Bulnes, dan beberapa bangunan tua di downtown. Sebuah pilihan itinerary dadakan yang tidak jelek, namun tetap tidak seindah impian kami berinteraksi dan berselfie dengan ribuan magellans penguins di pulau Magdalena tadi. 

Dan sayangnya pula dari informasi yang kami dapat, migrasi penguins tahun ini kemungkinan baru mulai akhir bulan Oktober.
“And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.” ― Paulo Coelho, The Alchemist
Sebuah harapan baru muncul ketika kenalan baru kami, Marisol, si pemilik hostel Magallanes tempat kami menginap mengabarkan bahwa ada koloni King Penguins di wilayah Tierra del Fuego yg bisa dikunjungi, tapi kami harus menempuh total perjalanan pulang pergi sekitar 15 jam. 

Setelah membaca, menimbang dan memusyawarahkan akhirnya kami putuskan utk mendatangi koloni king penguins tadi. Jadilah kami menyusuri jalan panjang ke arah selatan melalui jalur Ruta del Fin del Mundo, End of the World route alias jalur menuju ujung dunia (saya masih penasaran siapa yang ngasih nama jalur ini) ke wilayah Tierra del Fuego (Land of Fire). Pemandangan sepanjang jalur ini didominasi padang rumput dan sabana maha luas tanpa kelihatan ujungnya yang sesekali diselingi rumah-rumah estancia tua atau ranch beserta kawanan domba atau sapi yang hidup bebas tanpa penjagaan. 
Bangkai kapal tua di Ruta del Fin del Mundo. Sepanjang jalur menuju Tierra del Fuego banyak dijumpai bangunan-bangunan tua atau rongsokan kapal yang sudah ditinggalkan.

Enam jam perjalanan menyusuri ruta del fin del mundo dan menyeberang selat Strait of Magellan berlalu, akhirnya sampailah kami di Parque Pinguino Rey… Semua capek serasa hilang seketika begitu kami tiba dan disambut cewek muda hispanic cantik dengan muka khas Chile yang jadi ranger sekaligus interpreter di area ini (duh Gusti…dan di ujung dunia dengan jumlah manusia yang tidak lebih dari hafalan angka anak TK ini pun masih bisa ketemu cewek cakep… welkom to Chile!). 

Eh maap…maksud saya semua capek kami serasa hilang seketika begitu kami tiba2 dihadapkan pada pemandangan kawanan king penguins dengan riuh ramai suaranya. Jenis penguins setinggi 1.2 meter dengan bulu paduan warna hitam putih dan kuning ini normalnya hidup berkoloni di sub antartica, tapi entah kenapa koloni kecil yang tidak lebih dari 100 ekor ini nyasar sampai di tempat ini. Jadilah kami berkesempatan ber happy feet dancing dengan mereka tanpa harus ikut cruise ke Antartika yang harga paketnya super naudzubilah itu. Tidak lebih dari dua jam kami menikmati waktu bersama koloni king penguins ini…dan selebihnya kami pun harus balik lagi ke arah utara, tentunya dengan 6 jam pula, dengan pegal2 baru pula…
Koloni King Penguins di Parque Pinguino Rey, Tierra del Fuego, Cile. King Penguin merupakan jenis penguins dengan ukuran sekitar 1.2 meter dengan warna bulu kombinasi hitam, putih dan kuning. Normalnya koloni king penguins tinggal di pulau-pulau terpencil wilayah subantartika


Setelah skip sehari menghilangkan semua pegal linu yang kami dapat dari perjalanan panjang menyusuri ruta del fin del mundo, perjalanan kami lanjut ke arah utara… Puerto Natales, provinsi Ultima Esperanza. Ultima Esperanza sendiri secara harfiah berarti Last Hope, harapan terakhir, mentok, buntu. Konon katanya nama ini diambil dari cerita tragis sebuah expedisi pada abad ke 16 yang tidak bisa menemukan jalur ke arah barat menuju samudra pasific dan akhirnya mentok dan tinggal menetap di tempat ini. 
Floating iceberg (pecahan es) dari Grey Glacier yang mengapung dan bergerak ke tepain danau / Lago Grey yang jaraknya sekitar 20km dari area glacier


Puerto Natales adalah kota kecil tempat transit kami menuju puncak itinerary perjalanan kali ini, Torres del Paine National Park. Sebuah taman nasional seluas 242ribu hectares yang meliputi gunung, glaciers, danau, stepa, sungai dan flora fauna endemiknya. 
Torres del Paine National Park. Taman Nasional yang meliputi gunung, glacier, danau dan sungai di wilayah selatan Patagonia Chile. Torres dalam bahasa spanyol berarti Tower atau menara sementara Paine dalam bahasa native Aonikenk berarti biru.


Tempat dengan puncak batu granit massif yang mirip tanduk yang diselimuti salju abadi ini boleh dibilang surganya para adventurer, trekker dan backpacker (nilai 9 dari skala 10 menurut review kami…. Satu point minus karena ketidaktersediaan warung angkringan beserta teh jahe angetnya). 


Ada beberapa jalur trekking panjang seperti W circuit dengan durasi waktu 5 hari atau Big O Circuit yang berdurasi 9 hari yang bisa dijelajahi untuk menikmati setiap sudut taman nasional ini. Dan sebagai alternative ada beberapa mini trekking route dengan durasi satu sampai tiga jam yang cocok untuk pengunjung tipe family seperti kami ini.
Torres del Paine National Park. Taman Nasional yang meliputi gunung, glacier, danau dan sungai di wilayah selatan Patagonia Chile. Torres dalam bahasa spanyol berarti Tower atau menara sementara Paine dalam bahasa native Aonikenk berarti biru.

Tantangan terbesar bagi pengunjung Torres del Paine adalah cuaca, udara dingin dan angin yang super kencang. Dan kami sendiripun kemarin sempat menunda jadwal perjalanan ke sana karena mempertimbangkan cuaca hujan lebat dan angin kencang. Sembari menunggu cuaca di wilayah Torres del Painie membaik, beruntung kami berkenalan dengan warga lokal yang akhirnya membawa kami ke estancia/ranch Puerto Consuelo di dekat Puerto Natales. 
Grey Glacier, merupakan bagian dari Southern Patagonian Ice Field yang membentang di wilayah selatan Chile dan Argentina. Grey glacier sendiri memeliki luasan sekitar 270 km2 dengan ketinggian sekitar 40 meters.

Jadilah kami mendapat moment spesial bercengkerama dan berbagi makan siang bersama el Gaucho (sebutan untuk patagonian cowboy), menikmati aktivitas keseharian mereka bersama puluhan kuda, anjing-anjing penjaga dan ratusan sapi di padang rumput pinggir Eberhard Fiord.

Cuaca membaik, sehari kemudian kami putuskan berangkat menuju Torres del Paine dengan kendaraan tour agent yang berangkat dari Puerto Natales. Setidaknya butuh tiga jam perjalanan dari Puerto Natales menuju destinasi kami ke Lago Grey, tempat memulai navigation Grey Glacier sebagai puncak perjalanan kami, sebuah navigasi dengan kapal kecil untuk mendekat ke Southern Patagonian Ice Field, sebuah gugusan glaciers seluas 270 km2 dengan tinggi menjulang sekitar 40 meters. 
Navigation Grey Glacier. Navigasi mendekati Grey Glacier yang dikelola oleh Hosteria Lago Grey ini hanya di buka selama spring dan Summer Season (Oct – Apr)

Navigasi yang dikelola oleh Hosteria Grey ini semacam must to do list bagi pengunjung Torres del Paine. Kapan lagi coba kita bisa berada dekat dengan glaciers beserta bongkahan2 icebergs gitu tanpa harus ke ujung sub antartica atau ke arctic di utara sana. Singkat cerita (karena jari saya sudah mulai kelu ngetik kata2) perjalanan ke Torres del Paine ini kami lengkapi dengan trekking ke beberapa overlook points, danau, laguna dan beberapa spot stepa di pinggiran danau tempat beberapa fauna seperti vicunas, guanaco dan Andean deers hidup bergerombol, bercengkerama dan menikmati indahnya dunia (begitu damai, gak ada yang mengumpat2 apalagi memaki-maki presidennya).
Kawanan vicunas di Torres del Paine National Park ini mudah ditemui di stepa2 pinggiran danau.
Ah sudahlah…gitu dulu ya ceritanya. Muchas gracias y hasta luego!


Sumber: Parjianto Wihardjo > BDGroup
Comments
0 Comments

0 komentar :